Dari
sejarah Perkumpulan Barongsai MAKIN hingga Sejarah perkumpulan barongsai singa
selatan Belitung timur yang bermula bernama Group singa selatan dan berubah
menjadi perkumpulan singa selatan. Perkumpulan yang sederhana namun memiliki
jiwa yang ingin berkembang menjadi perkumpulan yang bisa merukunkan semua
elemen masyarakat melalui serangkaian kesenian sanggar tari budaya dari budaya
kesenian Tionghua, pertama perkumpulan ini adalah sebuah perkumpulan biasa dan hanya
sebagai aktivitas kegiatan dari anak –anak muda desa baru kecamatan manggar. Perkumpulan
ini di pelopori oleh seorang anak yang berasal dari daerah desa baru yang
bernama rudiansyah, dia adalah seorang anak dari keluarga bapak Toni Hartono yang
biasa di sapa oleh masyarakat yaitu apak/bapak. Meskipun diketahui rudiansyah
bukan merupakan anak dari bapak apak, tetapi perhatian dan kasih sayangnya
seperti anak kandungnya tidak lebih dan tidak kurang sebagaimana ia mengasihi
anak-anak kandungnya meski ia sadar bahwa rudiansyah bukan anak dari pertalian
darahnya. Sosok ayah yang baik dan perhatian kepada seorang anaknya, membuat
pak Toni merasa perhatian kepada Rudi, pada masa waktu itu, rudi dan
kawan-kawannya sering bermain –main dengan sebuah kerangka keranjang buah yang
dimainkannya dengan sehelai kain untuk dapat menyerupai sebuah kerangka kepala
barongsai dan seolah-olah itu adalah barongsai. Melihat rudi yang sering
memainkan kerangka kepala barongsai yang dibuatnya dari bahan kerangka
keranjang buah membuat ayahnya berniat untuk dapat bisa membelikannya mainan
kepala barongsai. ibu yang tidak tahu dan hanya berpikir bahwa ayahku akan
membelikanku sebuah mainan kepala barongsai berukuran kecil seperti anak-anak
yang lain. Namun, sebaliknya rupa-rupa kepala barongsai itu rupanya besar
seperti yang dimainkan oleh para anak-anak dewasa di waktu itu. Dengan bergegas
saya merasa bahagia dan tidak tahu mau bilang apa selain ungkapan term kasih
kepada ayahku tersebut, aku bahagia sekali dan aku sangat bahagia punya ayah
angkat yang baik walaupun saya tahu bahwa saya ini bukan anak kandungnya tetapi
mengapa perhatian dan sayangnya itu seperti kebaikan ayah kandung. Lalu, aku
pergi ke rumah amin dan memberi tahukan bahwa aku ada kepala barongsai dan
mengajak anak-anak main, hari-hari itu merupakan hari yang bahagia bagiku
dan untuk selamanya akan aku kenang
kebaikan ayahku itu. Tidak lama kemudian beberapa bulan ada berita bahwa ada
sebuah yayasan yang ingin menyelenggarakan sanggar seni tentang Taian singa
yaitu permainan barongsai, hal ini adalah pertama dari orang yayasan itu
melihat ada potensi dari kelompok bermain kami, kelompok bermain kami adalah
kelompok yang tidak membedakan agama ataupun ras suku karena kami menyadari
kami mempunyai satu kesamaan yaitu kami suka dan gemar bermain barongsai meski
kami sadari bahwa perbedaan itu ada
tetapi tidak membuat kami putus dalam mengapresiasikan kreativitas kami untuk
menjadi pemain seni Tarian singa atau biasa disebut dengan barongsai.
Hari
berhari kami lalui dan bulan berbulan kami tempuh berlatih dan berkreasi,
bermain dan bergerak mencari keserasian dalam gerak dan tabur untuk sebuah gaya
gerak kreasi apresiasi seolah-olah kepala kerangka barongsai yang kami gerakkan
itu dapat memberikan penglihatan dan penghayatan dalam memainkan peran seekor
singa yang sedang bermain –main di ruang lingkungan hidupnya.
Prestasi
yang telah diraih dari mulai saya berada di yayasan MATAKIN sampai saya keluar
karena ada konflik yang akhirnya membuat saya terpacuh untuk membuat sebuah
team perkumpulan singa selatan. Karena pada ketika waktu itu saya merasa
terkhianati dan tidak hargai sebagaimana seyoganya dalam sebuah perkumpulan
kita adalah saudara untuk selalu bersama-sama menyelesaikan masalah dalam
bermusyawarah untuk mendapatkan hasil yang baik. Namun, mereka menganggap saya
telah bertolak belakang dan membuat kata-kata yang tidak wajar, sebenarnya saya
tidak pernah berkata seperti itu, saya juga menghormati kehidupan orang
sebagaimana saya juga menghormati saudara-saudara saya dari ayah angkat saya.
tetapi seperti begitulah jika kawan yang tidak sekawan dengan kita akan bermain
dan menusuk kita secara belakang seperti mengadu –dombakan antara pihak-pihak
yang tidak ingin di menjadi bertikai tetapi itulah sifat kawan/teman yang
cemburu sosial akan kepunyaan temannya yang ada maupun tidak ada pada temannya
itu tersebut.
Lanjut
kisah, sepulang saya, saya memberitahukan kepada ibu dan ayah saya bahwa saya
ingin berhenti main barongsai di MAKIN, saya merasa terhina atas kelakuan
tindakan mereka yang menuduhku yang tidak benar faktanya. Dan akhirnya, ayah
saya melihat saya yang sedih dan berbinar seperti akan menangis, lalu ayah saya
berkata”uda kan kamu ada barongsai hitam jangan cengeng kaya anak perempuan aja”(ujar
ayah saya),. Dengan inisiatif saya memanggil teman-teman yang lain, siapa yang
ingin main barongsai menemani saya, lalu dengan perasaan yang bahagia saya kami
selalu bermain dan berlatih dan ada juga yang aku ajarkan cara-cara bermain
barongsai selama apa yang telah saya dapat dalam perguruan saya sewaktu saya
masuk di perkumpulan barongsai MAKIN. Dan pada akhirnya, ntah kenapa Guru kami
atau sepuh kami itu keluar dari MAKIN dan lalu berkompromi dan ingin menata
ulang perkumpulan yang di waktu dulu yang saya buat untuk bermain barongsai
setelah saya berhenti dari ke anggotaan team barongsai MAKIN. Dan pada saat itu
saya dan Guru/sepuh kami yang bernama Leo, bersama –sama membangkitkan nama
perkumpulan yang namanya yang biasa hingga akhirnya menjadi nama yang luar
biasa dan bergerak menuju prestasi yang gumilang. Namun pada saat ini,
perkumpulan kami masih dalam tahap pembenahan dan masih mencari penerus
generasi perkumpulan barongsai ini untuk eksistensi sebagai wadah yang
merukunkan pemuda-pemuda daerah kami dewasa ini dan seterusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar